
LAMPUNG SELATAN kompasraya.com – Sosok Kepala Desa yang tidak hanya piawai mengurus pemerintahan desa, tetapi juga sukses menjadi petani inspiratif ditunjukkan oleh Bapak Poniran, Kepala Desa Bumi Asih, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan.
Di tengah kesibukannya sebagai pemimpin desa, Poniran membuktikan bahwa jabatan tidak menjadi halangan untuk tetap produktif di sektor pertanian. Ia kini dikenal sebagai petani pembudidaya Cabe Rawit Putih (Cabe Bule) yang sukses.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepada tim media www.kompasraya.com, Poniran mengungkapkan bahwa ini bukan ditahap awal Menanam Cabe Melainkan sudah 3 Tahun terakhir ini menanamcabe , dan untuk saat ini ia menanam sebanyak 4.000 batang cabe di lahan miliknya.
Hasilnya sangat menjanjikan. Hingga saat ini, kebun cabe miliknya sudah memasuki panen ke-8 kalinya.
“Alhamdulillah, sudah panen 8 kali. Rata-rata sekali panen kita dapat 90 kilogram sampai 100 kilogram atau 1 kwintal. Buahnya masih lebat,” ujar Poniran saat ditemui di kebunnya, pada Minggu (11/10/2026).
Dengan harga cabe rawit putih saat ini yang terbilang tinggi, budidaya yang dilakukan Poniran menjadi sumber ekonomi yang sangat menjanjikan.
Menurut informasi pasar, tradisional harga cabe rawit putih saat ini di tingkat petani, Harga cabai rawit merah atau cabai setan per Oktober 2026 rata-rata nasional menyentuh kisaran Rp. 90.000 hingga Rp100.000. per kilogram (menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional / PIHPS), dengan harga di beberapa daerah atau pasar tradisional berkisar antara Rp70.000 hingga Rp120.000 per kilogram tergantung wilayah.
Berikut rincian harga cabai per Oktober 2026:
• Cabai Rawit Merah (Setan): Rp100.000 – Rp103.000 per kg (rata-rata nasional)
• Cabai Rawit Hijau: Rp65.000 – Rp76.500 per kg
• Cabai Merah Keriting: Rp68.000 – Rp87.100 per kg
– Cabai Merah Besar: Rp63.250 – Rp68.000 per kg.
Jika dihitung, dengan hasil 90-100 Kg per panen, Poniran bisa mengantongi omset Rp 6,3 Juta hingga Rp 10,3 Juta sekali petik. Padahal cabe rawit bisa dipanen setiap 5-7 hari sekali.

Tak puas dengan 4.000 batang, Kades yang visioner ini kini tengah mengolah lahan baru yang akan ditanami sekitar 3.000 batang cabe lagi. Artinya total akan ada 7.000 batang cabe yang dikelolanya.
Menariknya, kesibukan sebagai petani tidak pernah mengganggu tugas utamanya sebagai Kepala Desa Bumi Asih.
“Alhamdulillah tidak mengganggu kerja dinas di desa. Justru saya atur waktu pagi dan sore di kebun. Pelayanan di desa tetap jalan normal. Saya ingin memberi contoh langsung kepada warga, bukan hanya menyuruh,”tegasnya.

Ajak Warga Manfaatkan Lahan Tidur Untuk Ketahanan Pangan
Lebih dari sekedar bisnis pribadi, Poniran memiliki misi sosial. Ia aktif mengajak warganya untuk tidak membiarkan lahan pekarangan dan lahan tidur menganggur.
Ia mengedukasi warga untuk menanami lahan dengan sayur-mayur, cabe, terong dan komoditas pangan lainnya untuk menambah penghasilan keluarga dan mendukung program ketahanan pangan pemerintah.
“Saya ajak warga, ayo gunakan lahan tidur di sekitar rumah untuk ditanami sayur mayur dan cabe. Tidak perlu luas, yang penting produktif. Bisa untuk makan sendiri, sisanya dijual bisa untuk jajan anak dan nambah rezeki. Kalau semua warga bergerak, Desa Bumi Asih bisa jadi sentra sayur di Palas,” ajaknya.
Kisah Poniran ini menjadi bukti nyata bahwa potensi pertanian di Kecamatan Palas sangat besar. Dengan pendampingan dan dukungan dari Dinas terkait, bukan tidak mungkin Desa Bumi Asih akan menjadi percontohan desa mandiri pangan di Lampung Selatan.
Ia berharap adanya perhatian dan dukungan dari Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas PMD Kabupaten Lampung Selatan, berupa bantuan bibit unggul, pupuk, serta pelatihan pengolahan lahan agar gerakan pemanfaatan lahan tidur yang ia gagas bisa diikuti lebih banyak warga.
Editor: Mustakim









